Jumat, 07 Desember 2012

Sejarah desa Tundagan

SEJARAH DESA TUNDAGAN

Jauh sebelum Desa Tundagan ini didirikan, di daerah ini tersebutlah kampung-kampung kecil yang terdiri dari 4 (empat) kampung yaitu kampung Windujati, kampung Ciagi, kampung Cirageung dan kampung Cikondang, jarak antara kampung yang satu dengan yang lainnya kurang lebih 1 (satu) sampai 3 (tiga) kilometer.
Kampung yang berada di ujung barat adalah kampung Windujati yang konon katanya ada pohon jati yang sangat sakti, sebab pohon jati tersebut bisa ditebang dalam waktu sewindu (delapan tahun) itu juga bisa ditebang  oleh orang sakti yang bernama Buyut Subang. Kampung Windujati  dengan sebutan Syekh Muhtar dan sekarang beliau dimakamkan di gunung Puteran, dan tempat ini dijadikan makam keramat dan banyak dikunjungi orang karena menjadi objek wisata jiarah.
Kampung Ciagi dipimpin oleh ketua kampungnya yang bernama Eyang Sunyaragih, Kampung Cirageung yang menjadi ketua kampungnya Buyut Ciragang sedangkan kampung yang paling timur yaitu kampung Cikondang yang ketua kampungnya Buyut Cikondang.
Diantara empat kampung yang memperluas daerahnya yaitu kampung Windujati, pengembangannya ke sebelah timur atas usaha putera Syekh Muhtar yang terdiri dari tiga orang anak :
1.    Mertadiraksa mendirikan babakan Windutama, perkembangannya menjadi kampung Tarikolot/Bojong Hurip, kemudian sekarang menjadi Kampung Kosambi dan Kampung Jamburea.
2.    Suryadiraksa mendirikan babakan Warudoyong, perkembangannya menjadi kampung Sawah Bera dan kampung Babakan.
3.    Kertadiraksa atau disebut Buyut Dugal karena kesaktiannya lebih dibanding dua saudaranya, dalam perkembangannya membuka kampung di sebelah utara yang disebut babakan Karang Sari dan sekarang menjadi Desa Bunigeulis
Diperkirakan pada abad XVII pada tahun 1629 dibawah kekuasaan Belanda dibentuklah suatu Pemerintahan Desa yang telah dinyatakan oleh ketua/tokoh-tokoh kampung melalui musyawarah, dan sepakat memberi nama Desa Tundagan yang artinya Nunda udagan (bahasa sunda) yang dalam bahasa Indonesia dapat dijabarkan/diartikan menyimpan banyak harapan.
Pusat Desa yaitu alun-alun, bale desa serta mesjid didirikan di tengah-tengah antara kampung Windujati dan kampung Cikondang.
Pimpinan Pemerintahan Desa disebut Kuwu. Kuwu pertama yang memimpin Desa Tundagan mendapat gelar Ngabeui Indra Pergaba dibantu oleh Kepala kampung atau disebut Rurah dan Priyayi atau Pembantu Kepala Kampung/Rurah.
Disamping dalam urusan kampung yang dibantu oleh Rurah dan Priyayi, Kuwu juga dibantu  para wakil urusan bidang yaitu :
1.    Urusan Administrasi oleh Jurutulis atau sekarang Sekretaris Desa.
2.    Urusan Pemerintahan oleh Ngabihi atau sekarang Kepala Bidang Pemerintahan.
3.    Urusan Pertanian oleh Raksabumi atau sekarang Kepala Bidang Ekonomi dan Pembangunan.
4.    Urusan Bidang Agama oleh Ketib yang dibantu oleh Lebe-lebe tiap kampung atau sekarang Kepala Bidang Agama dan Kesra.
5.    Urusan Keamanan oleh Kulisi atau sekarang Hansip/Linmas.
Untuk memberi tanda tiap-tiap waktu sholat dibuat sebuah bedug yang digantung di mesjid dan petugas yang dibebani untuk memukul bedug itu disebut Marebot dan untuk tanda/peringatan bagi masyarakat baik rapat, berburu, bahaya menggunakan Kohkol petugas yang memukulnya adalah Piket Harian Desa/Kemit.
Pada masa pemerintahan keturunan Indra Pergaba ke IV (empat) yaitu masa pemerintahan Kuwu Abdulrohim yang bergelar Kuwu Aris, Babakan Karang Sari memisahkan diri dari Desa Tundagan. karena perkembangan Babakan/Kampung Karang Sari cukup pesat maka berubah nama menjadi Desa Bunigeulis.
Sejak berdirinya Desa Bunigeulis maka tempat pemakaman kuwu-kuwu berpindah ke Pemakaman Dukuh yang sebelumnya berada di Babakan Karang Sari diantaranya makam Kuwu Indra Pergaba.
Perubahan kampung yang tercatat antara lain Kampung Windujati pindah bersatu ke wilayah desa dan bekas perkampungannya dijadikan sawah, kampung Windutama dan Warudoyong bersatu dan merupakan pusat desa dengan perkembangan Rurah-rurah dan penduduk, sedangkan kampung Cikondang pindah ke sebelah utara mendekati sungai Cipedak dan diganti namanya menjadi Nanggorak, tetapi kemudian setelah pemberontakan DI/TII dirubah kembali menjadi kampung Cikondang sekarang sudah memisahkan diri dan berubah menjadi sebuah Desa. Pada masa perang dengan Belanda pusat desa Tundagan dibakar habis. Hal itu disebabkan Desa Tundagan merupakan Basis Gerilya Tentara Nasional Indonesia yaitu Bataliyon dibawah pimpinan U.Rukman, sekarang sudah menjadi Jenderal Purnawirawan dan berdomisili di Bandung dan pada masa pemberontakan DI/TII pusat Desa Tundagan juga dibumihanguskan.
    Keadaan sekarang kampung-kampung yang berada di Desa Tundagan ;
1.    Cipipisan
2.    Jamburea
3.    Kosambi
4.    Sawah Bera
5.    Warudoyong
6.    Babakan
7.    Cidukuh
8.    Ciagi
    Silsilah Kepala Desa :
1.    Ngabeui Indra Pergaba
2.    Ngabeui Indra Bin Kewuk
3.    Buyut Manten Sepuh
4.    Haji Abdulrohim (Kuwu Aris)
5.    Bapak Manten Aden
6.    Raksa Sumantri (Juragan Sepuh)
7.    Kuwu Cibung
8.    Abdulah
9.    Sumintawijaya
10.    Jayadipura Suandi
11.    Sastra Atmadja
12.    Pradjasantana
13.    Sajud
14.    Sastrawasita Suanda
15.    Atmadijaya
16.    Djuhana
17.    Karim (Pjs)
18.    D. Sutarman
19.    Haryot
20.    A. Djarkasih (Pjs)
21.    Marzuki
22.    A. Sudrajat (Pjs)
23.    Sukirman
    Jenis-jenis kesenian yang ada Desa Tundagan :
1.    Pencak silat
2.    Degung
3.    Macapat
4.    Rudat
5.    Calung
6.    Reog
7.    Hujungan
8.    Gembyungan
9.    Angklung
    Museum Sejarah dan Kepurbakalaan benda kuno yang berupa perkakas, keris, pedang, tombak merupakan hak milik perorangan dan keluarga yang diantaranya :
1.    Pedang Buyut Sampet kepunyaan Bapak Dullah, Katna, Momon
2.    Keris kepunyaan Bapak Sajud, Abu, Ependi
3.    Senjata Tombak kepunyaan Bapak Wiradinata
4.    Pedang berburu kepunyaan Bapak Prawira Sujana
5.    Pecut Hujungan (si Marus) kepunyaan Bapak Kusen
6.    Dalika dari kayu jati berasal dari kampung Windujati peninggalan Buyut Subang kepunyaan keluarga besar Buyut Subang Secara Turun Temurun
    Pantangan (larangan) Desa :
-    Dilarang mengadakan hiburan wayang golek karena suka ada bencana.
Sumber informasi : Bapak Halid Arsisan (Lahir Tahun 1906